No comments yet

RENUNGAN HARIAN SELASA 03 JULI 2018

Menunda pertolongan bisa jadi perkara sepele untuk sebagian orang, tapi, sebuah pertolongan bisa berarti sebuah kehidupan untuk orang lain.

Amsal 3:27-28 (TB) Janganlah menahan kebaikan dari orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: “Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi,” sedangkan yang diminta ada padamu.

Kita pasti sudah banyak mendengar tentang anjuran supaya tidak jemu-jemunya berbuat baik, tentang bagaimana kita memperlakukan orang lain dan menerima perlakuan dari orang lain. Soal kebaikan ini, pernahkah kita berpikir tentang timing? Saat dimana kita menunggu besok atau lusa baru menolong? Saat dimana kita berpikir ribuan kali sebelum menolong? Itu adalah saat dimana kita sedang menunda sebuah kebaikan.

Dalam ayat di atas, jelas sekali bahwa seharusnya kita tidak boleh menunda jenis kebaikan apapun yang ingin kita berikan, dengan alasan apapun juga. Jika kita memiliki kebaikan tersebut, maka alasan apalagi yang membuat kita ragu untuk memberikan pertolongan?

Ayat di atas mengingatkan saya pada seorang teman yang datang meminta pendapat ketika dia ingin membantu temannya yang sedang membutuhkan uang. Saya tercenung, masakan membutuhkan diskusi tentang harus menolong atau tidak, sedangkan yang membutuhkan pertolongan adalah teman dia sendiri? Saat itu saya langsung teringat ayat ini dan bertanya padanya, apakah dia memiliki yang temannya minta? Tanpa berpikir dia menjawab, “Ada, sih.” Dia tampak menerawang, “Tapi buat apa?” katanya menambahkan. Saya singkat cerita langsung memberikan masukan padanya agar memberikannya kepada teman yang membutuhkan itu. Dan dia tampak masih berpikir panjang lagi. Selesai itu saya tidak tahu apakah dia jadi memberikan bantuannya atau tidak.

Dari kisah di atas, kita bisa belajar bahwa tidak seharusnya kita menunda sesuatu yang bisa jadi sangat dibutuhkan orang lain. Entah teman atau siapapun yang datang meminta pertolongan pada kita, saya yakin dia telah berpikir seribu bahkan sepuluh ribu kali untuk mengalahkan rasa sungkan dan meminta bantuan kita. Datang pada kita saya yakin sudah menjadi sebuah beban untuknya. Lalu, masakan kita mau menambahkannya lagi? Apakah pantas berkata untuk apa? Sekalipun itu adalah uang/barang kita, tapi bertanya untuk apa saya rasa bukan hal yang tepat selama yang diminta ada pada kita.

Untuk itu, usahakanlah untuk tidak menunda sebuah kebaikan dengan alasan apapun. Jika bisa menolong, maka tolonglah saat itu juga. Jika tidak bisa, maka doakan. Minta Tuhan mengirimkan orang lain untuk menolongnya. Menunda pertolongan bisa jadi perkara sepele untuk sebagian orang, tapi, sebuah pertolongan bisa berarti sebuah kehidupan untuk orang lain.

Oleh karena itu tetaplah rendah hati, ketika Tuhan mengizinkan seseorang datang kepada kita untuk meminta pertolongan, itu artinya Tuhan tahu bahwa kita sanggup menolong. Hanya, tetaplah ingat untuk mengembalian semuanya hanya bagi kemuliaan Tuhan. Kita – tidak akan pernah mampu menolong siapapun jika bukan Tuhan yang membuat kita mampu. AMIN

Post a comment