No comments yet

RENUNGAN HARIAN JUMAT 13 JULI 2018

“BERDAMAI TANPA TUNTUTAN”

Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau, tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu. ( Matius 5:23-24 )

Sering kali kita berpikir,

“Aku sih mau damai, tapi dia memang gitu orangnya,”

“Aku sih mau damai, cuma dia yang salah,”  atau

“Aku sih mau damai, tapi gimana lagi dia keras kepala.”

Banyak sekali pikiran dan perkataan yang tidak sadar kita lakukan menyerupai kalimat-kalimat di atas bukan? Kita menginginkan damai – itu sudah bagus. Yang membuatnya menjadi salah adalah kita menetapkan tuntutan di dalamnya. Kita mau berdamai tapi masih ada saja kata “tapi”. Kita mau berdamai tapi tidak mau untuk benar-benar rela menerima.

Dari ayat yang sudah kita baca di atas, Tuhan mengajarkan untuk pergi berdamai dulu dengan sesama kita sebelum kita datang berdoa padaNya. Faktanya, banyak dari kita yang masih mengeraskan hati dengan mempunyai pikiran seperti ini, “Tuhan tahu dia yang salah“. Padahal hal tersebut bukanlah yang diinginkan Tuhan.

Memang, berbicara tentu tidak sesulit melakukannya, namun jika saja kita mau sedikit saja melembutkan hati yang mengeras itu, maka Tuhan sendirilah yang akan membuka jalan supaya kita bisa menemukan perdamaian tersebut.

Kita perlu tahu, bahwa di dalam damai, tidak ada tuntutan. Di dalam damai tidak mengenal kata “tapi” atau “cuma“. Di dalam damai hanya ada kerelaan untuk menerima dan mengampuni. Jika kita masih menggunakan kata “tapi” dalam pendamaian yang ada, maka itu bukanlah damai, itu bukanlah keinginan untuk berdamai melainkan akan semakin memperkeruh keadaan.

Jangan menetapkan tuntutan dalam perdamaian. Entah orang tersebut keras kepala, jahat, licik, bahkan sedemikian telah menyakiti kita, jika pada akhirnya kita menginginkan perdamaian, maka lakukan tanpa menuntut. Tanpa harus berkata dia harus ini dan itu. Tanpa harus mengatakan apa yangmenjadi kelemahan orang tersebut.

Dia memang mungkin berkeras kepala dan berkeras hati. Jika itu yang terjadi dan kita sudah memutuskan untuk berdamai itu artinya kelemahan tersebut tidak boleh kita deklarasikan lagi padanya. Saling memeriksa diri, apakah yan membuat peselisihan sebelumnya terjadi.

Tanpa banyak disadari, perselisihan terjadi karena kita tidak memiliki kemauan untuk mendengarkan orang lain. Kalau saja kita mau mendengarkan apa keluh kesahnya, kalau saja kita menjadi sedikit lebih pengertian dengan mau mendengar kemauannya, perselisihan tentunya tidak akan terjadi.

Kekasih Tuhan, dunia mungkin mengajarkan untuk mengampuni tanpa melupakan, namun sebagai anak Tuhan, Tuhan mengajarkan untuk mengampuni dengan melupakan juga. Mudah? Tentu tidak mudah. Sekali lagi, melakukan tentu tak semudah berkata. Tapi, setidaknya mau belajar. Tidak menutup telinga pada ajaran dan didikan. Tidak menjauh dari perdamaian dengan alasan tidak salah.

Percayalah, dengan berdamai, maka kita telah menciptakan surga kecil di dunia.. Amin

Post a comment